Rabu, 09 Mei 2018

Waktu Tidak Dapat Diubah dan Dikembalikan


Waktu Tidak Dapat Diubah dan Dikembalikan

“Penyesalan, memang selalu datang dibelakang.” Ungkap Paraditya Garin Akhbar Syah, salah satu atlet dari Kab. Magelang yang lahir pada 23 September 1996 Ini. Dia mengatakan bahwa,” seharusnya saya bisa lebih dari ini, tetapi nyatanya dari pihak orang tua saya tidak mendukung yang saya lakukan. Yasudahlah, mungkin belum rejeki saya untuk menjadi atlet seutuhnya”.
“Saya melihat Garin mempunyai potensi yang cukup baik dalam bidang olahraga. Walau postur tubuhnya tidak cukup tinggi, tetapi kelentukannya cukup baik diantara teman sebayanya.” Kata bapak Purwanto guru penjas dimana Garin bersekolah.
Putra pasangan dari bapak Joni dan ibu Sudarwasih ini, mengawali karirnya saat usia 7 tahun bakatnya terlihat untuk dunia olahraga. Pertama kali , dia diarahkan untuk mengikuti program latihan sebagai atlet senam lantai. Peluang saat itu cukup baik, karena hanya terdapat 2 orang atlet termasuk dirinya di Kec. Borobudur.
Kemudian dia memutuskan untuk berpindah cabang olahraga sepak takraw. Perjalanannya dimulai, kelas 2 sekolah dasar dia mengawali karir dengan mengikuti kejuaraan POPDA tingkat kecamatan. Berbagai kejuaraan pernah dia ikuti, mulai dari POPDA, PORDA Usia Dini, dan juga kejuaraan didaerah lainnya.
“Sebuah kebanggaan untuk saya, untuk orang tua dan pastinya untuk sekolah yang namanya saya bawa.”, ujarnya.
 Pernah membawa nama Kab. Magelang melambung dan patut diperhitungkan dalam ajang POPDA tingkat Provinsi yang diadakan di GOR Jatidiri Semarang. Kala itu , Garin dan rekan satu timnya berhasil meraih  juara 2. Kemudian, prestasinya berlanjut sampai dia duduk di kelas 5 SD, pasalnya untuk kelas 6 SD dia sudah tidak mengikuti kejuaraan lagi dan focus untuk menghadapi UN (ujian nasional).  
Setelah tamat dari SD N 1 Borobudur tahun 2009, Garin meneruskan pendidikannya di SMP N 1 Borobudur. Garin membawa serta piagam penghargaannya yang dia sudah raih sewaktu sekolah dasar dulu. Piagam yang dia ajukan adalah juara 2 tingkat provinsi yang kemudian menghantarkan namanya melejit di peringkat 1 daftar siswa yang mendaftar di SMP itu.
“Mengejutkan memang, ya tetapi ini adalah salah satu bukti dari saya. Walau nilai akademik saya kurang baik, dibalik itu saya berusaha menutupi kekurangan saya dengan prestasi yang bisa saya banggakan.”
 Namun seiring berjalannya waktu, dari pihak sekolahan pun tidak terlalu mendukung untuk para atlet sepak takraw berkembang. Tidak ada fasilitas, kurangnya dukungan dari sekolah menjadi satu alasan dia harus memutar otak agar tetap bisa berprestasi di bidang olahraga. Ekstrakulikuler sepak bola yang ada dii sekolah itu adalah salah satu ekstrakulikuler yang paling digemari di sekolah tersebut.
Perjalanan kedua, untuk Garin. Atlet yang pernah meraih penghargaan langsung sebagai atlet terbaik dari bupati Magelang yaitu bapak I.r. H. Singgih Sanyoto ini berharap bisa merubah nasibnya setelah memutuskan untuk hijrah dari dunia sepak takraw dan menekuni sepak bola.
“Alasan lain kenapa saya memilih sepak bola menjadi tujuan, yaitu sosok Cristiano Ronaldo, yang muncul menjadi pemain sepak bola professional setelah dipromosikan oleh pelatih sekaligus manajer Manchaster United yaitu Sir Alex Ferguson pada tahun 2003 saat usianya baru menginjak 18tahun. Kalau Ronaldo bisa, kenapa saya enggak ?”. ugkapnya.
 Mulai kelas 2 smp. Dia menekuni sepak bola setelah lepas dari sepak takraw yang sudah membesarkan namanya. Ajang POPDA kembali menjadi salah satu pembuktian dirinya memang punya bakat dan mampu berprestasi.  Tahun 2010, tim POPDA sepak bola Magelang, berhasil lolos dan melaju hingga tingkat provinsi.
Di tingkat kecamatan, berhasil mengalahkan tim dari Kec. Grabag. Lalu di tingkat kabupaten berhasil mengakahkan Purworejo di partai final. Lalu , di tingkat provinsi tim yang berisi 22 anak asal Kab. Magelang ini, menghadapi lawan yang cukup berat yaitu tim dari Kab. Banyumas dan kota Semarang. Walau demikian, anak-anak dari Magelang bersemangat dan ingin sekali berhadapan langsung dengan tim yang begitu diunggulkan yaitu kota Semarang. Karena , sebagian besar pemain dari kota Semarang adalah jebolan timnas U16 yang berlatih di Afrika saat itu.
 “Sistem grub menjadi alasan lolos atau tidaknya kami untuk maju ke partai semi final, semoga saja anak-anak sudah siap dan tidak ada keraguan. Berharap anak-anak bisa meraih 3 poin di setiap pertandingan dan mengamankan posisi menjadi juara grub.” Kata Margito, pelatih fisik dari tim Kab. Magelang. Walaupun saat itu, keterbatsan waktu dan tempat latihan dikarenakan erupsi gurung Merapi , tetapi anak-anak terlihat begitu siap menghadapi lawannya.
Pertandingan dilaksanakan selama 3 hari, tapi kemudian jadwal pertandingan untuk Magelang diubah menjadi pagi dan sore. Ini jelas merugikan dari pihak tim dan manajemen kab. Magelang. Terbukti ketika hari H berlangsung. Pagi jam 06.00 anak-anak sudah bersiap untuk pertandingan perdananya melawan Kab. Banyumas di stadion Universitas Diponegoro. Kick off dimulai jam 08.30, kondisi lapangan yang buruk, dan masih juga berkutat dengan kondisi fisik para atlet karena sore harinya mereka juga harus melawam tim Kota Semarang yang notabene menjadi tuan rumah untuk tingkat probinsi. Alhasil , Magelang kalah 0-2 dari Banyumas.
“Pembagian jadwalnya kok bisa seperti ini pun saya bingung. Kan harusnya ada tenggang waktu untuk istirahat, minimal 1 hari. Ini kok sehari saja bisa 2 kali bermain? Mau fisiknya bagus seperti apapun tetap tidak masuk akal.”, tambah Margito.
Sore hari, sekitar jam 16.00 pertandingan kedua untuk tim Magelang, dan dari kota Semarang sudah memiliki modal utama yaitu kondisi fisik yang belum mengalami kelelahan berbeda dengan kondisi fisik dari tim Magelang. Tiga gol untuk Kota Semarang, dan hadiah kartu merah untuk pemain belakang Magelang yaitu Sani semakin memperburuk keadaan mental anak-anak Magelang. Pulang dengan tangan hampa adalah ungkapan yang kini mereka rasakan. Kekecewaan terlihat dalam , dari tatapan mata mereka.
”Apa mau dikata, kemampuan kami terbatas. Apalagi dengan tempo sehari kami harus melewati pertandingan dari 2 tim terbaik di tingkat provinsi. Ini jelas, menjadi pelajaran yang paling berharga buat kami.” Ujar kapten tim Magelang Dendy Purwanto usai pertandingan kedua di stadion Citarum, Semarang.
Tidak sampai disitu saja, rejeki memang tidak selalu harus berwujud materi, bahkan undangan untuk turnamen futsal menjadi rejeki tersendiri untuk Garin dan teman temannya sepulang mereka ke Magelang. Mendapat undangan dari Ichsanul Fikri Competition yang diselenggarakan di GOR Haji Asy’ari untuk tingkat SMP/MTs se-Kabupaten Magelang. Pihak sekolah yang mendapat undangan , langsung memanggil Garin dan kolega untuk mengikuti pertandingan yang akan diadakanpada 14 – 20 April 2011. Hasil yang baik ditorehkan untuk tim SMP N 1 Borobudur yang diperkuat oleh Garin berhasil mengalahkan 18 tim lainnya dan menjadu juara 1 futsal waktu itu. Bisa dibilang itu adalah obat bagi mereka .
“Alhamdulillah, ini sebagai modal bagi kami, kekalahan yang lalu saat di provinsi popda tahun lalu, bisa disembuhkan oleh prestasi yang kami torehkan saat ini. Pulang dengan piala, dan piagam penghargaan adalah sesuatu hal yang spesial bagi kami, bagi saya khususnya. Semoga , kegiatan ini bisa diadakan setiap tahunnya. ” Kata Garin, setelah penerimaan piala dan piagam penghargaan .
            Lulus dari SMP N1 Borobudur dan Garin melanjutkan sekolahnya di SMA N 1 Salaman.  Lalu pada bulan September, menjelang ulang tahunnya yang ke 17, dia mendapat tawaran untuk masuk ke SSB Real Madrid yang diprakarsai oleh Universitas Negeri Yogyakarta. Lantas dia pun mencoba untuk ikut seleksi, dan hasinya cukup baik. Dia diterima dengan predikat nilai terbaik, dari sisi fisik dan kemampuan teknik dia termasuk pemain yang apik sebagai pemain belakang atau stopper.
 Catatan lainnya dia juga masuk dalam tim Porprov Magelang saat itu juga, namun langkahnya terhenti saat H-7 menjelang keberangkatan. Ia cidera lutut setelah pada sesi latihan tertabrak oleh rekan satu timnya sendiri. Pupus sudah harapan Garin untuk iku Porprov yang diselenggarakan di Kebumen saat itu. Recovery selama kurang lebih 8bulan.
 “Bagi saya, cidera ini bukan sebuah penyesalan. Sepak bola penuh dengan drama, kejadian seperti ini sudah biasa bagi kami.” Katanya dengan nada penuh harap. Bagaimana tidak? Persiapan yang dilakukan sudah mencapai tahap akhir, tinggal menunggu keberangkatan dan beberapa latihan akhir malah dirinya dibekap cidera. “Doa terbik untuk tim porprov Magelang, semoga bisa meraih juara,” tambahnya .
Setelah lama berkecimpung di dunia sepak bola sebagai seorang atlet, kini Garin telah tumbuh menjadi mahasiswa di Universitas Negeri Semarang. Angkatan 2015, Garin masuk dan dterima di salah satu universitas yang kualitasnya sudah tidak diragukan lagi. SBMPTN menjadi jalur awal dia masuk kesini. Tes keterampilan dan tes teori menjadi syarat untuk diterimanya. 8 semester harus ditempuh oleh pemuda yang kini berusia 22tahun untuk mendapatkan gelar Sarjana Pendidikan.
 “Kini saya bukan lagi saya yang dulu, Sejak kejadian itu, peforma saya tak sebaik dulu. Bukannya tidak mau bermain lagi, tapi karena dua hal, yang pertama cidera yang cukup lama, dan sering kambuh , serta kini persaingan semakin berat. Saya mungkin tidak bisa menilai diri saya sendiri, tapi saya bisa mengukur diri saya. Cidera ini selalu menghantui saya. Kini sepak bola tidak lagi menjadi prioritas utama saya, saya lebih fokus dengan aktifitas kuliah saya. Kalau Tuhan mengijinkan saya mengulang hidup, mungkin saya akan memperbaiki kesalahan saya dimasa lalu, walau tu hanya satu hal saja.” Pungkasnya .

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Reportase

Turnamen Tonnis Antar Mahasiswa Transfer Kredit LPTK 2018 dan Mahasiswa Asing Unversitas Negeri Semarang Turnamen Tonnis yang dise...