“Penyesalan,
memang selalu datang dibelakang.” Ungkap Paraditya Garin Akhbar Syah, salah
satu atlet dari Kab. Magelang yang lahir pada 23 September 1996 Ini. Dia
mengatakan bahwa,” seharusnya saya bisa lebih dari ini, tetapi nyatanya dari
pihak orang tua saya tidak mendukung yang saya lakukan. Yasudahlah, mungkin
belum rejeki saya untuk menjadi atlet seutuhnya”.
“Saya
melihat Garin mempunyai potensi yang cukup baik dalam bidang olahraga. Walau postur
tubuhnya tidak cukup tinggi, tetapi kelentukannya cukup baik diantara teman
sebayanya.” Kata bapak Purwanto guru penjas dimana Garin bersekolah.
Putra
pasangan dari bapak Joni dan ibu Sudarwasih ini, mengawali karirnya saat usia 7
tahun bakatnya terlihat untuk dunia olahraga. Pertama kali , dia diarahkan
untuk mengikuti program latihan sebagai atlet senam lantai. Peluang saat itu
cukup baik, karena hanya terdapat 2 orang atlet termasuk dirinya di Kec.
Borobudur.
Kemudian
dia memutuskan untuk berpindah cabang olahraga sepak takraw. Perjalanannya
dimulai, kelas 2 sekolah dasar dia mengawali karir dengan mengikuti kejuaraan
POPDA tingkat kecamatan. Berbagai kejuaraan pernah dia ikuti, mulai dari POPDA,
PORDA Usia Dini, dan juga kejuaraan didaerah lainnya.
“Sebuah
kebanggaan untuk saya, untuk orang tua dan pastinya untuk sekolah yang namanya
saya bawa.”, ujarnya.
Pernah membawa nama Kab. Magelang melambung
dan patut diperhitungkan dalam ajang POPDA tingkat Provinsi yang diadakan di
GOR Jatidiri Semarang. Kala itu , Garin dan rekan satu timnya berhasil meraih juara 2. Kemudian, prestasinya berlanjut
sampai dia duduk di kelas 5 SD, pasalnya untuk kelas 6 SD dia sudah tidak
mengikuti kejuaraan lagi dan focus untuk menghadapi UN (ujian nasional).
Setelah
tamat dari SD N 1 Borobudur tahun 2009, Garin meneruskan pendidikannya di SMP N
1 Borobudur. Garin membawa serta piagam penghargaannya yang dia sudah raih
sewaktu sekolah dasar dulu. Piagam yang dia ajukan adalah juara 2 tingkat
provinsi yang kemudian menghantarkan namanya melejit di peringkat 1 daftar
siswa yang mendaftar di SMP itu.
“Mengejutkan
memang, ya tetapi ini adalah salah satu bukti dari saya. Walau nilai akademik
saya kurang baik, dibalik itu saya berusaha menutupi kekurangan saya dengan
prestasi yang bisa saya banggakan.”
Namun seiring berjalannya waktu, dari pihak
sekolahan pun tidak terlalu mendukung untuk para atlet sepak takraw berkembang.
Tidak ada fasilitas, kurangnya dukungan dari sekolah menjadi satu alasan dia
harus memutar otak agar tetap bisa berprestasi di bidang olahraga.
Ekstrakulikuler sepak bola yang ada dii sekolah itu adalah salah satu
ekstrakulikuler yang paling digemari di sekolah tersebut.
Perjalanan
kedua, untuk Garin. Atlet yang pernah meraih penghargaan langsung sebagai atlet
terbaik dari bupati Magelang yaitu bapak I.r. H. Singgih Sanyoto ini berharap
bisa merubah nasibnya setelah memutuskan untuk hijrah dari dunia sepak takraw
dan menekuni sepak bola.
“Alasan
lain kenapa saya memilih sepak bola menjadi tujuan, yaitu sosok Cristiano
Ronaldo, yang muncul menjadi pemain sepak bola professional setelah
dipromosikan oleh pelatih sekaligus manajer Manchaster United yaitu Sir Alex
Ferguson pada tahun 2003 saat usianya baru menginjak 18tahun. Kalau Ronaldo
bisa, kenapa saya enggak ?”. ugkapnya.
Mulai kelas 2 smp. Dia menekuni sepak bola
setelah lepas dari sepak takraw yang sudah membesarkan namanya. Ajang POPDA
kembali menjadi salah satu pembuktian dirinya memang punya bakat dan mampu
berprestasi. Tahun 2010, tim POPDA sepak
bola Magelang, berhasil lolos dan melaju hingga tingkat provinsi.
Di
tingkat kecamatan, berhasil mengalahkan tim dari Kec. Grabag. Lalu di tingkat
kabupaten berhasil mengakahkan Purworejo di partai final. Lalu , di tingkat
provinsi tim yang berisi 22 anak asal Kab. Magelang ini, menghadapi lawan yang
cukup berat yaitu tim dari Kab. Banyumas dan kota Semarang. Walau demikian,
anak-anak dari Magelang bersemangat dan ingin sekali berhadapan langsung dengan
tim yang begitu diunggulkan yaitu kota Semarang. Karena , sebagian besar pemain
dari kota Semarang adalah jebolan timnas U16 yang berlatih di Afrika saat itu.
“Sistem grub menjadi alasan lolos atau tidaknya
kami untuk maju ke partai semi final, semoga saja anak-anak sudah siap dan
tidak ada keraguan. Berharap anak-anak bisa meraih 3 poin di setiap
pertandingan dan mengamankan posisi menjadi juara grub.” Kata Margito, pelatih
fisik dari tim Kab. Magelang. Walaupun saat itu, keterbatsan waktu dan tempat
latihan dikarenakan erupsi gurung Merapi , tetapi anak-anak terlihat begitu
siap menghadapi lawannya.
Pertandingan
dilaksanakan selama 3 hari, tapi kemudian jadwal pertandingan untuk Magelang
diubah menjadi pagi dan sore. Ini jelas merugikan dari pihak tim dan manajemen
kab. Magelang. Terbukti ketika hari H berlangsung. Pagi jam 06.00 anak-anak
sudah bersiap untuk pertandingan perdananya melawan Kab. Banyumas di stadion
Universitas Diponegoro. Kick off dimulai jam 08.30, kondisi lapangan yang
buruk, dan masih juga berkutat dengan kondisi fisik para atlet karena sore
harinya mereka juga harus melawam tim Kota Semarang yang notabene menjadi tuan
rumah untuk tingkat probinsi. Alhasil , Magelang kalah 0-2 dari Banyumas.
“Pembagian
jadwalnya kok bisa seperti ini pun saya bingung. Kan harusnya ada tenggang
waktu untuk istirahat, minimal 1 hari. Ini kok sehari saja bisa 2 kali bermain?
Mau fisiknya bagus seperti apapun tetap tidak masuk akal.”, tambah Margito.
Sore
hari, sekitar jam 16.00 pertandingan kedua untuk tim Magelang, dan dari kota
Semarang sudah memiliki modal utama yaitu kondisi fisik yang belum mengalami
kelelahan berbeda dengan kondisi fisik dari tim Magelang. Tiga gol untuk Kota
Semarang, dan hadiah kartu merah untuk pemain belakang Magelang yaitu Sani
semakin memperburuk keadaan mental anak-anak Magelang. Pulang dengan tangan
hampa adalah ungkapan yang kini mereka rasakan. Kekecewaan terlihat dalam ,
dari tatapan mata mereka.
”Apa
mau dikata, kemampuan kami terbatas. Apalagi dengan tempo sehari kami harus
melewati pertandingan dari 2 tim terbaik di tingkat provinsi. Ini jelas, menjadi
pelajaran yang paling berharga buat kami.” Ujar kapten tim Magelang Dendy
Purwanto usai pertandingan kedua di stadion Citarum, Semarang.
Tidak
sampai disitu saja, rejeki memang tidak selalu harus berwujud materi, bahkan
undangan untuk turnamen futsal menjadi rejeki tersendiri untuk Garin dan teman
temannya sepulang mereka ke Magelang. Mendapat undangan dari Ichsanul Fikri
Competition yang diselenggarakan di GOR Haji Asy’ari untuk tingkat SMP/MTs
se-Kabupaten Magelang. Pihak sekolah yang mendapat undangan , langsung
memanggil Garin dan kolega untuk mengikuti pertandingan yang akan diadakanpada
14 – 20 April 2011. Hasil yang baik ditorehkan untuk tim SMP N 1 Borobudur yang
diperkuat oleh Garin berhasil mengalahkan 18 tim lainnya dan menjadu juara 1 futsal
waktu itu. Bisa dibilang itu adalah obat bagi mereka .
“Alhamdulillah,
ini sebagai modal bagi kami, kekalahan yang lalu saat di provinsi popda tahun
lalu, bisa disembuhkan oleh prestasi yang kami torehkan saat ini. Pulang dengan
piala, dan piagam penghargaan adalah sesuatu hal yang spesial bagi kami, bagi
saya khususnya. Semoga , kegiatan ini bisa diadakan setiap tahunnya. ” Kata
Garin, setelah penerimaan piala dan piagam penghargaan .
Lulus
dari SMP N1 Borobudur dan Garin melanjutkan sekolahnya di SMA N 1 Salaman. Lalu pada bulan September, menjelang ulang
tahunnya yang ke 17, dia mendapat tawaran untuk masuk ke SSB Real Madrid yang
diprakarsai oleh Universitas Negeri Yogyakarta. Lantas dia pun mencoba untuk ikut
seleksi, dan hasinya cukup baik. Dia diterima dengan predikat nilai terbaik,
dari sisi fisik dan kemampuan teknik dia termasuk pemain yang apik sebagai
pemain belakang atau stopper.
Catatan lainnya dia juga masuk dalam tim
Porprov Magelang saat itu juga, namun langkahnya terhenti saat H-7 menjelang
keberangkatan. Ia cidera lutut setelah pada sesi latihan tertabrak oleh rekan
satu timnya sendiri. Pupus sudah harapan Garin untuk iku Porprov yang
diselenggarakan di Kebumen saat itu. Recovery selama kurang lebih 8bulan.
“Bagi saya, cidera ini bukan sebuah
penyesalan. Sepak bola penuh dengan drama, kejadian seperti ini sudah biasa
bagi kami.” Katanya dengan nada penuh harap. Bagaimana tidak? Persiapan yang
dilakukan sudah mencapai tahap akhir, tinggal menunggu keberangkatan dan
beberapa latihan akhir malah dirinya dibekap cidera. “Doa terbik untuk tim
porprov Magelang, semoga bisa meraih juara,” tambahnya .
Setelah
lama berkecimpung di dunia sepak bola sebagai seorang atlet, kini Garin telah
tumbuh menjadi mahasiswa di Universitas Negeri Semarang. Angkatan 2015, Garin
masuk dan dterima di salah satu universitas yang kualitasnya sudah tidak
diragukan lagi. SBMPTN menjadi jalur awal dia masuk kesini. Tes keterampilan
dan tes teori menjadi syarat untuk diterimanya. 8 semester harus ditempuh oleh
pemuda yang kini berusia 22tahun untuk mendapatkan gelar Sarjana Pendidikan.
“Kini saya bukan lagi saya yang dulu, Sejak
kejadian itu, peforma saya tak sebaik dulu. Bukannya tidak mau bermain lagi,
tapi karena dua hal, yang pertama cidera yang cukup lama, dan sering kambuh ,
serta kini persaingan semakin berat. Saya mungkin tidak bisa menilai diri saya
sendiri, tapi saya bisa mengukur diri saya. Cidera ini selalu menghantui saya.
Kini sepak bola tidak lagi menjadi prioritas utama saya, saya lebih fokus dengan
aktifitas kuliah saya. Kalau Tuhan mengijinkan saya mengulang hidup, mungkin
saya akan memperbaiki kesalahan saya dimasa lalu, walau tu hanya satu hal
saja.” Pungkasnya .

Tidak ada komentar:
Posting Komentar