Minggu, 18 Maret 2018

Paraditya Garin Akhbar Syah (sejarah pers nasional)

Bisa dikatakan masa sejarah pers nasional diawali dengan terbitnya koran mingguan Medan Prijaji pada tahun 1907 yang didirikan oleh RM Tirto Adhi Soerjo dan Raden Djokomono. Penerbitan koran inilah yang pertama kali menggunakan modal nasional dan dipimpin oleh orang Indonesia setelah sebelumnya seluruh media massa dipegang kendali oleh Belanda. Koran berbahasa melayu ini pada tahun 1910 diubah formatnya dari minggguan menjadi harian.
Pejuangan kemerdekaan melalui pers terus berlanjut hingga datangnya masa penguasaan Jepang. Saat itu semua media pers langsung berada di bawah pemerintahan militer Jepang sebagai alat propaganda  Jepang melawan sekutu. Koran berbahasa Belanda dilarang terbit pada masa pendudukan Jepang, namun kondisi itu dimanfaatkan pers untuk meratakan penggunaan bahasa Indonesia ke seluruh pelosok tanah air. Bahkan orang Indonesia juga mendapatkan latihan pengelolaan pers yang nantinya berguna pada masa pasca kemerdekaan.

Masyarakat Internasional memberikan simpati terhadap kemerdekaan RI yang diserukan tanggal 17 Agustus 1945 karena media pers yang terus mengobarkan api kemerdekaan. 

Bahkan ketika Inggris dan Belanda mencoba kembali menguasai  Indonesia, media terus gencar dengan perlawanan mereka untuk mempertahankan kemerdekaan.

Setelah masa revolusi dan Republik Indonesia diakui dunia iternasional tahu 1948, pers diahadapkan dengan permasalahan yang pelik antar pribumi karena adanya ketegangan sosial yang tinggi. Tokoh-tokoh  berlomba mengisi jabatan-jabatan yang tersedia dalam pemerintahan, padahal institusional poitik belum berjalan.  Fungsi pers pun berubah menjadi alat perjuangan kelompok partai atau aliran tertentu sehingga melupakan tugasnya sebagai pembangun karakter nasional.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Reportase

Turnamen Tonnis Antar Mahasiswa Transfer Kredit LPTK 2018 dan Mahasiswa Asing Unversitas Negeri Semarang Turnamen Tonnis yang dise...